Teori-Teori Belajar
Teori-Teori Belajar
Menurut Slameto (2003:2)
Menurut Winkel
Teori
pertama datang dari Winkel, menurutnya belajar merupakan aktivitas mental
ataupun psikis yang berlangsung baik di lingkungan dengan interaksi yang aktif.
Selain itu belajar diharuskan atau menghasilkan perubahan yang secara langsung
ataupun tidak langsung dalam pribadi yang melakukannya. Dalambelajar akan ada
hasil perubahan dalam pengelolaan pemahaman dalam sisi apapun. Terutama untuk
anak-anak yang baru mengenal.
Menurut Djamarah
Belajar bisa diartikan sebagai suatu kegiatan
dengan melibatkan dua unsur yaitu jiwa dan raga ketika melakukannya, gerak
tubuh harus terlihat sejalan dengan proses jiwa agar bisa mendapatkan dan
melihat adanya perubahan. Perubahan yang didapatkan tentu bukan hanya perubahan
dari fisik namun perubahan jiwa yang lebih penting, sebab dengan adanya
perubahan jiwa maka berpengaruh pada perubahan fisik atau perubahan jasmani.
Perubahan sebagai hasil dari proses belajar adalah perubahan yang berpengaruh
terhadap tingkah laku seseorang.
Menurut Ernest R. Hilgard
Menurut ahli Ernest R. Hilgard dalam (Sumardi
Suryabrata, 1984:252) Belajar memiliki pengertian sebagai proses dari
perbuatan yang telah dilakukan dengan sengaja atau dilakukan dalam keadaan
sadar. Kemudian menimbulkan adanya perubahan dan menyebabkan keadaan yang
berbeda dari sebelumnya. Berdasarkan pengertian ini belajar juga menimbulkan
perubahan diri dan lebih baik jika atas kemauan dari masing-masing pribadi dan
bukan paksaan, karena dengan cara ini tak jarang mereka yang belajar berakhir
depresi hingga tekanan mental.
Menurut Bower (1987:150)
Bower berpendapat bahwa dengan Belajar kita dapat
menunjukan adanya perubahan yang relatif dalam perilaku yang terjadi karena
adanya beberapa pengalaman yang telah dialami dan juga latihan yang sudah
dilakukan dalam waktu sebelumnya. Bower juga menjelaskan bahwa “Learning is a
cognitive process” yang artinya Belajar adalah suatu proses kognitif. Disini
Bower menjelaskan proses merupakan hal yang lebih penting dibandingkan hasil dari
belajar itu sendiri.
Menurut Moh. Surya (1981:32)
Menurut ahli Moh. Surya berpendapat
dengan Belajar merupakan sebuah proses usaha yang telah dilakukan oleh
masing-masing individu untuk bisa memperoleh sebuah perubahan tingkah laku yang
baru secara keseluruhan. Selain itu belajar sebagai hasil pengalaman individu
itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Bagi Moh. Surya, belajar
kembali pada masing-masing personalnya untuk mau belajar dan mengerti hasil
yang bisa didapat dari belajar itu sendiri.
Teori belajar Behaviorisme
Dalam belajar
sebenarnya ada 3 teori besar yang terkenal, yang pertama yakni teori
behavioristik. Penjelasan dari sebuah teori yang di kemukakan oleh ahli
psikoloki Gage dan Berliner ini
memiliki arti tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman,
bisa dikatakan bahwa belajar merupakan perubahan berdasarkan pengalaman.
Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah Thorndike, Watson, Clark
Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner.
Teori ini juga berkembang menjadi aliran
psikologi khusus untuk belajar yang nantinya akan berpengaruh pada perkembangan
baik teori maupun praktek dalam pendidikan dan pembelajaran, untuk itulah
dikenal sebagai aliran yang membentuk perilaku sebagai hasil belajar atau
behavioristik.
Teori behavioristik erat kaitannya dengan model hubungan
stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif
atau yang tinggal menerima saja sedangkan respon atau perilaku tertentu dengan
menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan
semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Teori Konstruktivisme
Berawal dari kata konstruksi maka teori
ini bersifat membangun atau menumbuhkan. Jika dilihat dari filsafat pendidikan
dapat diartikan bahwa konstruktivisme merupakan upaya atau usaha membangun
susunan hidup yang berbudaya modern tanpa meninggalkan hal utama. Namun kata
modern disini sudah mempengaruhi termasuk modern dalam pembelajaran.
Konstruktivisme merupakan landasan
berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun
oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang
terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Teori konstruktivisme pelajar lebih
menekankan mereka paham dan mampu untuk menganalisa masalah yang ada. Untuk
itulah dalam teori belajar ini siswa atau pihak yang belajar bukan dalam
keadaan yang pasif melainkan aktif dan juga terarah.
Mereka di bantu untuk bergerak dan ikut
memicu otak agar bisa berperan dalam belajar itu sendiri. Maka dengan perubahan
metode inilah konstruktivisme sering disebut teori belajar modern. Teori ini
nampaknya memang sudah diterapkan terutama untuk anak generasi sekarang yang
dianggap sudah berwawasan lebih modern dan di tuntut untuk lebih kritis.
Pavlov
Menurut ahli
selanjutnya, Pavlov menjelaskan belajar merupakan sebuah proses perubahan
yang terjadi disebabkan adanya syarat-syarat atau conditions, yang dapat
berbentuk latihan yang dilakukan secara kontinuitas atau terus menerus sehingga
menimbulkan reasksi (response). Kelemahannya adalah menganggap bahwa belajar
adalah hanyalah terjadi secara otomatis dan lebih menonjolkan peranan
latihan-latihan, dimana keaktifan dan pribadi seseorang tidak dihiraukan.
Jerome S. Bruner
Bruner mengungkapkan bahwa belajar
merupakan bagaimana orang tersebut untuk memilah, memilih, mempertahankan, dan
mentransformasikan informasi dengan cara yang lebih aktif. Menurut Bruner
selama kegiatan belajar berlangsung akan lebih baik jika siswa dibiarkan untuk
menemukan sendiri apa penyebap dan makna dari berbagai hal yang mereka
pelajari, sehingga teori “menyuapi” ilmu tidak ia gunakan dalam belajar.
Pasalnya siswa diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berperan dalam memecahkan
masalah sehingga mereka terlatih untuk bisa menghadapi masalah. Dengan cara
tersebut diharapkan mereka mampu memahami konsep-konsep dalam bahasa mereka
sendiri.
David Ausubel
David mengungkapkan bahwa dengan teori
belajar bermakna, maka belajar bisa diklasifikasikan menjadi dua dimensi,
diantaranya adalah:
- Dimensi yang berkaitan dengan cara informasi atau materi pelajaran disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau penemuan sehingga siswa lebih aktif, atau
- Dimensi yang menyangkut tentang cara siswa untuk mengabaikan informasi pada beberapa struktur yang ada, khususnya struktur kognitif diantaranya adalah fakta, konsep, dan generalisasinya yang telah dipelajari dan diingat siswa.
Teori Belajar kognitivisme Teori
belajar kognitif sudah mulai berkembang sejak abad terakhir karena bentuk
protes terhadap teori perilaku yang telah berkembang pada masa sebelumnya.
Model kognitif ini memiliki perspektif apabila peserta didik memproses
informasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, ataupun
menemukan hubungan antara pengetahuan yang terbaru dengan pengetahuan yang
sudah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses bukan
hasilnya saja.
Menurut Imron (1996:2) Menurut
Imron, belajar didefinisikan sebagai sebuah perubahan tingkah laku dalam diri
seseorang yang relatif menetap, karena bentuk hasil dari sebuah pengalaman.
Menurut Slameto (2003:2)
Slameto berpendapat dari sisi psikologi,
dimana belajar merupakan proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari
interaksi siswa bersama lingkungannya, hal ini dilakukan guna memenuhi
kebutuhan mereka yang mungkin berbeda-beda.
Vigotsky
Menurut Vigotsky pembelajaran terjadi
bila anak bekerja ataupun mencoba menangani tugas yang belum pernah namun tugas
itu telah berada dalam zone of proximal development. ZPD merupakan istilah yang
dibuat Vigotsky untuk berbagi tugas yang memang terlalu sulit, namun mereka
bisa melakukan hal tersebut karena adanya koordinasi dan bimbingan yang lebih
terampil atau bisa diandalkan. ZPD ini umumnya cocok bag anak-anak yang lebih
suka tantangan.
Teori Thorndike
Teori belajar
stimulus-respon yang dikemukakan oleh Thorndike disebut juga dengan
koneksionisme, teori ini mungkin kurang populer namun secara tidak langsung
banyak dilakukan pada pendidikan jaman sekarang ini. Teori ini menyatakan bahwa
pada hakikatnya belajar merupakan proses pembentukkan hubungan antara stimulus
dan respon. Cukup ampuh untuk anak-anak yang memang memiliki hubungan dengan
keluarga yang kurang baik, padahal dalam proses belajar keluarga merupakan
media terbaik untuk belajar.
Komentar
Posting Komentar